Semenjak Muhammad al Fatih lahir, ibunya membawa Muhammad al Fatih keluar dari istana dan berdiri di sebuah tebing yang menghadap ke arah Konstantinopel. kepada al Fatih kecil ibunya berujar;

"Wahai anakku, di sana terdapat kota Konstantinopel. Rasulullah bersabda: Konstantinopel itu akan ditaklukkan oleh tentara Islam. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang menaklukkannya. Ketahuilah anakku, engkaulah orangnya" 

 

Begitulah, setiap hari ibunya membawa Muhammad al Fatih ke tebing itu dan menunjuk ke arah konstantinopel kemudian membacakan hadist Rasulullah tentang penaklukkan Konstantinopel. Selain itu, setelah shalat subuh, ibunya mengajari Muhammad al Fatih kecil tentang geografi dan batas wilayah Konstantinopel.

 


Bagi kaum muslim, Konstantinopel adalah kota yang dijanjikan oleh Rasulullah dalam bisyarahnya. Konstantinopel sendiri bukanlah kota yang lemah. Posisinya sebagai ibukota Byzantium menjadikannya memiliki semua teknologi perang dan sistem militer yang pernah memimpin dunia. Wilayah lautnya amat luas dan memiliki armada laut terbaik pada masanya.

 

Tembok Konstantinopel mampu menahan 23 serangan. Maka tak heran jika Muhammad al Fatih kecil bertanya pada ibunya, "Bagaimana aku bisa membebaskan wilayah sebesar itu wahai ibu?". " Dengan al  Quran, kekuatan, persenjataan, dan mencintai manusia." Jawab ibunya. 

 

 

Begitulah, hingga kemudian Muhammad al Fatih di usianya yang baru 23 tahun berhasil menaklukkan Konstantinopel. Padahal kaum muslimin sebelumnya berusaha menaklukkannya namun tidak berhasil. Penantian selama 825 tahun, akhirnya bisa diwujudkan oleh seorang pemuda hebat, penghafal al Quran, cerdas, ahli strategi perang, dan memiliki kedekatan hubungan dengan Allah. 

 

 

Kesabaran ibunya sekaligus cita-cita besar sang ibu dalam mendidik anak. Itulah salah satu kunci kehebatan Muhammad al Fatih. Oleh karena itu, mari kita belajar bersabar dalam mendidik anak-anak kita. Sebanyak apapun ilmu parenting yang kita miliki tapi jika kita tidak  mampu bersabar, apalah gunanya.

 

Selain itu tanamkan cita-cita besar pada anak kita. Untuk itu kita harus senantiasa berprasangka baik terhadap anak kita. Meskipun tingkahnya luar biasa. Tetap berprasangka bahwa dia calon pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. Meskipun lingkungan sekarang tidak kondusif, justru itulah kesempatan dan ladang pahala untuk melahirkan generasi yang akan membangun peradaban mulia.

 

Jika Konstantinopel sudah berhasil dibebaskan oleh Muhammad al Fatih maka kita perlu bercita-cita besar bahwa anak kitalah yang kelak menaklukkan kota Roma, kota kedua yang dijanjikan Allah akan ditaklukkan kaum muslimin. Semoga kita bisa bersabar dan berprasangka baik dalam mendidik anak-anak kita seperti ibunya Muhammad al Fatih.

 

Oleh: Tim Khoiru Ummah Pekanbaru