Ketika mendengar kata pemimpin, pasti yang terbayang adalah pemimpin negara, gubernur, walikota, bupati, camat, atau lurah. Jadi rasanya mustahil kalau ada lembaga pendidikan yang punya tujuan melahirkan generasi pemimpin. Apa iya semua anak didiknya akan dijadikan pemimpin negara atau gubernur? Mustahil sekali.

 

Perlu kita ketahui bahwa makna pemimpin tidaklah sesempit yang kita bayangkan. Hakikat memimpin adalah mempengaruhi seseorang dengan kekuatan kata-kata yang mampu berpengaruh dalam pikiran dan perasaan orang lain. Ada sebuah contoh yang menarik untuk menggambarkan bagaimana hakikat memimpin. Ada seorang anak perempuan yang mampu mempengaruhi temannya agar mau berkerudung. Ketika teman perempuan main ke rumahnya dalam keadaan tidak berkerudung, perempuan kecil ini menyuruh temannya untuk pulang dulu mengambil kerudung. Uniknya, temannya tersebut mendengar dan patuh. Berbahagialah yang jadi orang tuanya, sebab dalam diri putri kecilnya sudah muncul benih jiwa pemimpin.

 

Ada seorang anak perempuan yang mampu mempengaruhi temannya agar mau berkerudung. Ketika teman perempuan main ke rumahnya dalam keadaan tidak berkerudung, perempuan kecil ini menyuruh temannya untuk pulang dulu mengambil kerudung. Uniknya, temannya tersebut mendengar dan patuh. Berbahagialah yang jadi orang tuanya, sebab dalam diri putri kecilnya sudah muncul benih jiwa pemimpin.

 

Begitulah gambaran generasi pemimpin. Menjadi orang yang berpengaruh karena kekuatan kata-katanya. Ia mampu mempengaruhi pikiran dan perasaan orang untuk melakukan kebaikan. Ia sendiri pun tidak terpengaruh dengan keburukan. Jelas, karena pemimpin bukanlah generasi pembebek. Apalagi membebek hal-hal yang bertentangan dengan syariat islam. Justru Ia akan selalu berpegang teguh pada syariat islam. Bahkan Ia akan mempengaruhi orang-orang disekitarnya untuk taat syariat.

 

Lalu, bagaimana caranya menstimulus anak agar bisa menjadi generasi pemimpin? Salah satunya melalui belajar bahasa dan tahfizh. Ketika belajar bahasa, anak belajar untuk mendengar dan menyimpan informasi sebanyak mungkin. Ini adalah tahap awal, selanjutnya tahap kedua adalah belajar berbicara. Untuk berbicara anak harus memiliki informasi diotaknya (yang ia dapatkan dari mendengar) kemudian mengaitkannya dengan fakta yang diinderanya. Dengan demikian telah terjadi proses berpikir. Anak pun kemudian menyampaikan apa-apa yang sudah menjadi pemikirannya. Hakikat berbicara adalah menyampaikan pemikirannya.

 

Selain itu, agar perkataannya mampu mempengaruhi orang lain maka harus menggugah akal dan menyadarkan jiwa. Untuk itu bahasanya harus ahsan. Agar anak terbiasa dengan bahasa yang ahsan, anak harus sering diperdengarkan dan ditahfizh al Quran. Tak bisa dipungkiri, bahwa al Quran bahasanya sangat tinggi bahkan mukjizat al Quran terletak pada ketinggian bahasanya sehingga orang Arab yang jago bersyair pun tak mampu membuat 1 ayat yang semisal dengan al Quran. Inilah salah satu hikmah tahfizh al Quran, anak-anak hanya terbiasa mendengar perkataan yang ahsan dan merasa risih mendengar perkataan yang tidak ahsan apalagi berkata yang tidak ahsan.

 

Sehingga yang keluar dari lisan anak adalah kata-kata ahsan yang mampu menimbulkan kesan yang mendalam dalam akal dan perasaan orang lain. Bahkan sangat mungkin anak juga akan menyampaikan dalil ketika mempengaruhi orang lain. Mengingat sudah banyak ayat yang dia hafal. Perkataan anak pun akan semakin berpengaruh dan meninggalkan kesan yang mendalam di benak orang lain. Semoga kita tidak lagi menganggap bahwa melahirkan generasi pemimpin adalah sesuatu yang mustahil.

 

 

Oleh: Tim Khoiru Ummah Pekanbaru