Hanna Ummu Dzaky Ibu Rumah Tangga, Pengajar Tahfiz di HSG Khoiru Ummah Pekanbaru.

 


Dalam demokrasi, media adalah pilar keempat setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Meski di luar sistem politik formal tapi perannya sangat strategis. Menyampaikan informasi sekaligus sebagai kontrol sosial. Sayangnya, media kini tak lagi obyektif, memberikan pengaruh kepada masyarakat, apalagi mencerdaskan masyarakat. Media kini dikuasai oleh pengusaha/para kapital untuk mencari keuntungan atau menunjang kekuasaan politiknya.

 


Akhirnya para penguasa media (pengusaha/kapital) yang menentukan fakta-fakta apa saja yang boleh disampaikan ke masyarakat dengan versi mereka masing-masing. Harusnya media mampu melihat setiap peristiwa dari sudut pandang yang objektif, sealamiahnya peristiwa. Media saat ini sangat berbeda atmosfernya dengan beberapa dekade lalu. Jargon pemberitaan media hari ini telah sangat jauh berbeda dengan beberapa dekade lalu.  Dahulu, bukan berita namanya ketika ada “Anjing gigit manusia” tetapi akan jadi berita ketika “Ada manusia gigit anjing”. Jargon ini telah dianggap usang.  Hari ini, yang dianggap berita itu menggunakan prinsip ini:  “Adalah  menjadikan sesuatu yang tidak penting menjadi penting”.

 

Berita besar bisa jadi justru akan dikecilkan oleh media karena tidak dianggap penting oleh media tersebut. Media turut berperan “membajak” opini dan dialihkan kepada isu-isu yang memberi keuntungan kepada mereka. Kita bisa belajar dari aksi damai 411. Nampak sekali pembajakannya. Mulai dari aksi yang katanya ternodai karena adanya “kericuhan”, “Kerusuhan”, “Jaket trendy Presiden Jokowi” yang ini merupakan peremehtemehan, dan  disibukkannya masyarakat dengan istilah “pakai” dan “tanpa pakai” yang merupakan upaya pembelokan dan sama sekali tidak menyentuh esensi dari tuntutan aksi damai 411.



Apakah semua media seperti itu? Tidak. Masih ada media yang lurus memberitakan dan menyebar opini. Sayangnya jumlahnya sedikit. Akhirnya masyarakat menggunakan medsos sebagai sarana melawan balik opini negatif islam sebagai bentuk ketidakpuasaan atas pemberitaan media konvensional yang dianggap sebagai media mainstream atau arus utama.



Tak dipungkiri juga, di medsos  banyak beredar berita hoax, penulis yang pemikirannya jauh dari Islam tapi banyak yang men-share tulisannya karena dipandang sebagai orang intelek, bahkan ada juga buzzer. Dari fenomena ini dipastikan bahwa diperlukan kekuatan sudut pandang dan literasi informasi. Literasi informasi tentu saja bekalnya adalah akidah dan tsaqofah Islam. Ketika mencerna banyak informasi dan menilai banyak peristiwa tentu saja dengan Akidah dan tsaqofah Islam. Menurut Fika Komara, penulis buku Muslimah Negarawan, ada lima strategi agar kita bisa memenangkan pertempuran di medsos. Pertama, jadilah penerima kabar dan penyampai kabar yang jernih sehingga tidak baper, terpancing emosi, bahkan menyebar berita hoax.



Kedua, lakukan riset berita yakni dengan mempelajari perbedaan angle berita, Identifikasi siapa medianya (pemilik media), cari conformity berita, kalau sudah conform berarti berita itu mendekati valid.


Ketiga, setelah berita valid, respon dengan sudut pandang Islam. Membuat opini yang sarat dengan informasi bergizi dan tsaqofah mulia. Di sinilah manifestasi kekuatan sudut pandang itu. Keempat, be the media, be the buzzer yang menginformasikan berita dan opini yang benar untuk umat, misal informasi seputar geliat dunia Islam, peristiwa politik ekonomi internasional, dan lainnya. Kelima,  siklus di atas  kemudian dikonsolidasikan di lapangan (darat) untuk semakin membuat kekuatan opini menjadi kekuatan yang menggerakkan.


Jika dalam sistem demokrasi, media menjadi pilar keempat dan rentan ditunggangi oleh para kapital untuk kepentingan ekonomi dan politik. Lalu bagaimana  peran politik media dalam Islam? Secara normatif media dalam Islam memiliki peran penting untuk dakwah Islam. Kemajuan teknologi akan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk tujuan dakwah. Media tidak semata mengeksploitasi pasar tapi juga mewujudkan masyarakat yang sehat serta generasi muda yang berkepribadian kuat.


Selain itu media memiliki strategi informasi yang khas yaitu memaparkan Islam dengan pemaparan yang kuat dan membekas. Strategi ini akan membangun kesadaran politik yang kuat pada masyarakat sehingga mampu memahami percaturan politik. Tidak seperti sekarang, masyarakat mendapat informasi yang membingungkan. Jangankan memahami percaturan politik, memilih dan memilah berita dan opini saja sudah kebingungan.


Selain untuk dakwah, media dalam Islam juga untuk mencerdaskan umat terutama generasi mudanya. Media tidak akan menyebarkan nilai-nilai sekuler liberal dan mengikis nilai-nilai Islam. Jika kinerja demikian cerdas dan waras, krisis identitas dan krisis iman diantara generasi muda bisa diminamilisir. Harus diakui, tantangan mendidik anak di era sekarang menjadi lebih berat dengan hadirnya media yang hanya menyebarkan pepesan kosong, informasi yang tidak bermutu.


Tak heran jika banyak orangtua yang kecolongan anak-anaknya diasuh oleh media yang tidak mencerdaskan. Akhirnya, menjauhkan anak dari media, menjadi salah satu upaya pencegahan yang dilakukan orang tua untuk menjaga pemikiran anak-anaknya. Namun itu saja tidak cukup, anak harus tetap diajak berdiskusi tentang realitas di luar, diajak mengaitkan dengan akidah dan tsaqofahnya, serta mengajak mereka terjun langsung ke masyarakat untuk mengubah kondisi masyarakat. Sayangnya tidak semua orang tua  memahami hal ini.

 


Langkah efektif dan sistematisnya adalah Negara menyediakan media yang mencerdaskan.


Media memang bisa menembus batas ruang dan waktu serta kelas sosial. Siapa saja, kapan saja, di mana saja, bisa mengaksesnya. Harusnya alat yang efektif ini menjadi sarana yang menjelaskan tuntunan hidup dan peningkatan kualitas hidup dengan kemajuan iptek. Media juga seharusnya menjadi penyebar informasi yang menunjukkan kesalahan pemikiran yang rusak serta menjerumuskan manusia pada kemaksiatan. Dengan demikian akan terwujud masyarakat dan juga generasi yang cerdas karena mendapatkan informasi yang benar dan jelas dari media. Terwujudnya media yang cerdas ini harus diupayakan oleh negara. Terlebih, Negara punya kewajiban melindungi masyarakatnya, termasuk melindungi masyarkatnya dari pengaruh buruk media. Sebab, mustahil masyarakat bisa membentengi diri mereka untuk melawan bombardir  virus-virus yang disebarkan oleh media yang tidak cerdas. Negaralah soko guru pertahanan dan perlindungan bagi rakyatnya.

 


Sedikit gambaran mengenai media yang mencerdaskan dalam pandangan Islam. Media senantiasa memberikan santapan informasi menyehatkan bagi pembentukan kepribadian generasi Islam yang kuat karena Allah menyukai generasi yang kuat dibanding yang lemah.

 


Media Islam juga menghadirkan gambaran keteladanan generasi-generasi sukses dalam peradaban Islam sebagai role model. Karenanya tidak ada tontonan yang melenakan berupa film atau games yang membuat kecanduan. Juga terlarang muncul di media konten pornografi dan kekerasan baik dengan pelaku manusia ataupun kartun/animasi. Tidak ada tokoh-tokoh khayalan dengan kekuatan super.  Tidak ada aurat yang bertebaran di media-media. Jelasnya, orientasi media Islam sangat berbeda dari orientasi media ala kapitalis yang 3K (konflik, kantong (uang),kelamin (seks)) media dalam Islam benar-benar mewujudkan fungsinya sebagai sarana informasi, edukasi, persuasi dan hak berekspresi publik dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar dan mengoreksi penguasa.

 


Islam juga mengajarkan bahwa negara adalah yang pihak yang bertanggung jawab terhadap hadirnya media yang mencerdaskan publik. Negara juga yang akan mengerahkan segenap sumber daya, teknologi dan dana untuk memberantas tuntas media-media porno dan merusak lainnya.  Misi edukasi dalam produk media Islam juga terus diarahkan agar kaum ibu mampu  menjalankan fungsinya dengan  pengetahuan dan kemampuan yang lebih baik.

 


Tentu kita merindukan hadirnya media yang cerdas dan waras. Mustahil memang, jika kita masih dalam kerangka sistem demokrasi kapitalis, akan tetapi akan mudah terealisir jika kita berada dalam kerangka sistem Islam. ***


sumber: riaupos.co