SEMARANG -- Sekolah di rumah (home schooling) menjadikan anak lebih senang belajar, mengingat pola belajar dilakukan dengan pendekatan dan kasih sayang dari keluarga. Bahkan, menurut Seto Mulyadi, proses penyerapan ilmu dengan sekolah di rumah juga lebih baik, mengingat dalam suasana lebih menyenangkan dan dapat dilakukan sambil bermain.

Sekolah di rumah, kata pria yang akrab disapa Kak Seto itu, merupakan konsep pendidikan yang dilandasi pemikiran bahwa setiap anak mempunyai bakat berbeda dan unik. "Hasilnya, anak akan lebih kreatif dan mempunyai kemandirian," ujarnya saat berbicara pada seminar Home Schooling di Semarang, Rabu (3/6). Terlebih lagi, kata dia, sekolah formal melakukan penyeragaman materi pendidikan, sehingga tidak memberi ruang bebas bagi murid untuk berkembang berdasarkan potensi dan keunikan individu.

Menurut Ketua Komnas Perlindungan Anak itu, konsep pendidikan sekolah saat ini justru banyak yang mematikan potensi anak sehingga menimbulkan stres dan fobia sekolah karena tidak ada pendampingan dalam belajar. Bahkan, anak dipaksa menerima pelajaran yang dibakukan dalam bentuk kurikulum.

Sementara itu, Kresno Mulyadi adik kandung Kak Seto mengatakan, anak di Indonesia banyak yang mendapatkan pengalaman tidak menyenangkan dalam proses pendidikan di sekolah, seperti kasus kekerasan, bentakan, kekerasan dari guru, hingga pemasungan kreativitas anak. "Sungguh kurang beruntung anak-anak kita di sekolah. Padahal tujuan pendidikan untuk membentuk manusia seutuhnya yang mempunyai nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, serta keadilan," katanya.

Listya, salah seorang peserta seminar menyatakan setuju dengan pendidikan alternatif di dalam rumah (home schooling). Ibu dua anak itu mengaku, lebih memaksimalkan mendidik kedua anaknya di rumah. "Bahkan, saya pernah membiarkan anak pertama saya, Dika (9) bolos sekolah, karena ingin menyelesaikan bacannya hingga tuntas," ujarnya. Meskipun anaknya sering bolos hanya karena ingin belajar di rumah, kata Listya, anaknya justru mampu menguasai sejumlah pelajaran di sekolahnya, bahkan lebih cepat daripada diterangkan gurunya.ant/bur Republika.co.id