Jakarta - Tanpa dipusingkan Ujian Nasional (UN), sejumlah anak tetap bisa memiliki ijazah hingga SLTA. Mereka juga tetap bisa pintar dan terpelajar tanpa perlu berangkat ke sekolah. Salah satunya adalah Minuk. Setiap pagi, Minuk kini tidak perlu lagi terburu-buru mandi. Ia juga tidak harus menyantap sarapan dengan tergesa-gesa. Meskipun hari itu bukan hari libur, gadis 17 tahun itu bisa santai karena tidak harus berangkat ke sekolah. Minuk bukan dari kalangan miskin yang tidak bisa sekolah karena masalah biaya. Gadis bernama lengkap Eka Putri Dutasari adalah putri sulung Seto Mulyadi.

Dialah Ketua Komnas Anak yang akrab disapa Kak Seto yang tentu saja sangat dikenal masyarakat. Soal biaya pasti bukan kendala bagi pria itu untuk menyekolahkan anak-anaknya. Dulu, Minuk sempat sekolah bahkan hingga kelas I SMA. Tapi ia merasa tidak nyaman dengan sekolahannya. Bagi gadis yang aktif membantu kerja ayahnya di Komnas Anak itu, pendidikan di sekolah terlalu mengekangnya. "Sistem yang dipakai seringnya sistem tekanan guru kepada murid. Guru sering antikritik sehingga murid tidak mendapatkan rasa aman untuk menunjukkan kreativitas dan kecerdasannya," papar Minuk. Kecewa dengan sistem sekolah, Minuk pun memilih keluar. Ia merasa bisa belajar sendiri dan lebih pintar tanpa harus berangkat ke sekolah.


Ia lantas memutuskan belajar sendiri di rumah alias mempraktekkan homeschooling. Dengan sistem ini, putri sulung dari 4 bersaudara ini lebih fleksibel menentukan waktu belajar. Setiap pagi Minuk tidak lagi harus mengurus seragam ataupun menghabiskan waktu untuk menempuh perjalanan ke sekolah. Putri Kak Seto itu kini bebas menentukan jam belajar dan jenis pelajaran sendiri. Ia tidak perlu keluar rumah karena belajar bisa dilakukan di rumahnya sendiri. Untuk pelajaran yang tidak sulit, Minuk mempelajarinya sendiri didampingi sang ayah. Baru untuk pelajaran yang rumit seperti matematika atau pelajaran eksakta, Minuk memanggil guru privat atau ikut bimbingan belajar. Minuk sangat enjoy dengan sistem pendidikan di rumah. Beda dengan sekolah yang membuatnya bosan sehingga ia menunggu-nunggu waktu pulang, homeschooling justru membuatnya keenakan belajar. "Kalau di bawah bimbingan guru privat, selesainya biasanya jam lima sore. Tapi kadang-kadang dengan kurikulum yang kita ciptain sendiri malah aku keasyikan hingga lewat dari jam tersebut," jelas Minuk. Hasilnya, pendidikan di SMA yang seharusnya selesai dalam 3 tahun, bisa Minuk lewati hanya 2 tahun. Tanpa harus berangkat sekolah, Minuk dinyatakan lulus SMA. Ia juga tidak dipusingkan Ujian Nasional (UN) yang kini menjadi kontroversi. Setelah belajar sendiri di rumah, gadis 17 tahun itu mengikuti ujian kejar paket C atau setara dengan SMA. Minuk lulus dan mengantongi sertifikat Kejar Paket C. Dengan sertifikat itu, ia bersiap-siap untuk mendaftar di Perguruan Tinggi. Di Indonesia, homeschooling memang belum umum. Padahal jenis pendidikan ini sudah diterapkan oleh tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantoro sejak zaman penjajahan Belanda. Di Amerika Serikat (AS), sistem pendidikan ini diikuti lebih dari 1 juta orang. 

Meski belum umum, sistem ini mulai banyak pengikutnya di Indonesia. Selain anak Kak Seto, ada juga anak Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Sofjan Djalil. Kemudian keluarga artis Neno Warisman dan Dick Doang. Ada juga keluarga biasa seperti Wanti Wowor, Helen Ongko, dan Yayah Komariah. Wanti Wowor, ibu 4 anak memutuskan mengajar sendiri anak-anaknya juga karena tidak puas dengan sistem pendidikan yang ada. Perempuan 39 tahun itu pernah melihat praktik bersekolah di rumah ketika berada di Amerika Serikat. Tahun 1992, Wanti mengeluarkan semua anaknya dari sekolah. Wanti lantas meminta teman-temannya di AS agar mengirimkan buku dan silabus kurikulum pendidikan di rumah ala AS untuk diadopsi. Perempuan itu menetapkan pukul 08.00-12.00 WIB sebagai waktu belajar di rumah. Untuk ujian, ia menerima draf soal ujian dari AS yang kemudian dikirimkan kembali untuk dinilai. Anak-anak Wanti, Fini dan Fina, sekarang duduk pada tingkat perguruan tinggi. Fini melanjutkan sekolah desain mode di Esmod Jakarta, sedangkan Fina memilih Universitas Indonesia program Internasional. Dibandingkan, mahasiswa lainnya yang bersekolah formal, Fini mempunyai kelebihan lebih disiplin dan lebih berani mengeluarkan pendapat.

Apa itu homeschooling? Pada dasarnya homeschooling sebenarnya sama saja dengan sekolah biasa. Hanya saja pendidikan ini dilakukan di rumah sehingga siswanya tidak perlu berangkat ke sekolah formal. Menurut Kak Seto yang menjadi Ketua Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Aternatif (Asahpena), kurikulum home schooling seratus persen mengacu pada kurikulum nasional yang mencakup lima materi. Yakni iptek, kewarganegaraan, keolahragaan, etika, dan estetika. Hanya metodenya saja yang berbeda.

Pendidikan di rumah dibuat seperti tamasya yang menyenangkan. "Waktunya fleksibel. Kalau ditanya kapan waktu belajarnya, dari bangun tidur sampai tidur lagi. Tempatnya di mana saja. Di mana saja bisa di kamar tidur, ruang makan, ruang keluarga, di kebun, taman, atau mungkin pabrik dan ketemu siapa saja," jelas Kak Seto. Meski fleksibel soal waktu yang kesannya seperti menggampangkan, sistem pendidikan ini mempunyai sejumlah keunggulan. Salah satunya, homeschooling lebih manusiawi dibandingkan sekolah formal. Anak tidak stres karena sistem pendidikan tidak kaku dan lebih kreatif. Selain itu, anak bisa lebih fokus mengembangkan dan menekuni minat dan bakatnya masing-masing. Anda berminat? (Kemas Irawan Nurrachman/Moehammad Samoedera Harapan)